"Neptunus, semua nelayan yang sedang mencari arah akan diberi petunjuk oleh bintang di langit. Semoga dia menemukan bintangnya dan kembali menemukan jalan pulang"
Page 208 (via awkwardly—awesome)

(via fridyanrs)

13 notes | Posted May 16, 12 #dee #perahu kertas

1,104 notes | Posted May 16, 12 #islam

Perasaan. Apa sih perasaan itu?

Berangkat dari kekalahan MU malam ini, saya jadi berpikir.

Karena anehnya, dari sekian hal yang telah dan sedang terjadi dalam hidup saya akhir-akhir ini, kalau mau dijadiin galau, ya semuanya bisa digalauin. Tapi, saya telah memilih untuk mengabaikannya. Kata orang, pain is inevitable, suffering is an option. Well then, I choose not to suffer. I (maybe) choose not to feel, nor overthink anything. Eh, tadi saya malah mendadak nyesek melihat MU kalah.

Jadi ceritanya, saya sudah lamaaaaa banget hiatus dari nonton bola akibat ngekos (kosan saya ini tvnya ada di bawah, sayanya suka mager). Sebenernya masih suka sih ngikutin, dari timeline, dari koran, dari livescore.. tapi bedalah ya sama nonton beneran. Nah tadi saya memilih untuk nonton, karena emang kurang epic apa sih ini pertandingan coba. Oke jadi saya nonton bola. Dan…MU kalah. Menang sih tandingnya, tapi tetep yang ngangkat piala ya Manchester City. Oke dan ngingetnya aja masih bikin nyesek *sigh*

Cukup bolanya, kenapa jadi ke perasaan? Setelah pilihan saya untuk tidak menggalaukan keadaan, entah gimana, ini nih si MU nih jadi trigger dari pikiran saya yang emang dari sononya hobi overthinking, meski spontan. 

Iya, perasaan. Saya liat timeline twitter saya yang optimis degdegan sama MU 15 menit sebelum akhirnya dalam 15 menit yang singkat itu, dua gol City membuyarkannya, hingga sampailah pada tweet saya yang memberi ucapan selamat atas kemenangan City. Dalam 15 menit. Perasaan yang optimis penuh harapan, dengan mudahnya berganti menjadi nyesek yang tiada tara.

Terus saya jadi kepikiran, wow. Sebegitu ajaibnya sesuatu bernama perasaan ini. Bagaimana ia dibangun dengan hati-hati, penuh perlawanan meski diserang berbagai hal, sarat dengan pilihan berat, namun ia memilih untuk tetap berdiri menjulang. Hingga akhirnya, satu saja kelemahan, yang tidak ia sangka, karena terlalu fokus melawan dari sisi yang berlawanan, ia pun ambruk. Cukup satu saja sentilan kecil.

Dan bagaimana hidup menawarkan dua kondisi dengan dua perasaan yang saling bertolakbelakang. Dikuatkan atau dilemahkan. Dikuatkan dengan harapan yang bermetamorfosis menjadi kenyataan. Dilemahkan karena rupanya kenyataan tak sejalan dengan harapan. 

Lucunya lagi, seringnya manusia lupa sama kondisi dikuatkan. Cukup menampar saya juga malam ini. Ya, karena ketika kita dikuatkan, kita merasa itu tidak memberikan efek positif. Ibarat obat yang memberikan efek antagonis, dia tidak memberikan kondisi yang berlawanan dari obat yang agonis. Dia hanya meniadakan efek dari agonis. Ya itu, manusia, hidup.. Kondisi yang seharusnya memberikan efek positif, cuma dirasakan sebagai peniada efek negatif.

Merasanya, berdiri menjulang itu… karena kekuatannya sendiri, lupa akan hal-hal yang menguatkannya. Lupa kalau yang biasa saja dalam hidupnya itu, luar biasa. Lupa kalau temboknya itu harusnya memang kuat, lebih kuat malah, karena kondisi ia dikuatkan itu banyak, luar biasa banyaknya.

Makanya, dengan berbagai keadaan yang ngerasanya dilemahkan, harusnya sih jadi sadar, biar nanti kalau di keadaan itu dikasih yang akhirnya menguatkan, bersyukurnya itu terus-terusan. Bukan cuma meniadakan perasaan negatif. 

Tapi, ya harus berusaha bergerak, karena menunggu dunia berubah cuma demi diri sendiri aja ya namanya egois. Mustahil. Harus tetap bergerak, berusaha sebaik mungkin, berubah menuju ke yang positif, kejar si positif yang menguatkan itu. Dan berdoa, berdoa untuk yang terbaik. Hingga akhirnya, kuasa itu bukan lagi di tangan dan kaki kita. Berserah. Ikhlas. 

…dan yang sering dilupakan, bersyukur itu penting, atas berbagai kondisi yang menguatkan kita sedemikian hebatnya, dan atas berbagai kondisi yang melemahkan kita, sehingga membuat kita terpacu untuk berubah, bergerak untuk mencari; mengajarkan kita untuk mengerti yang namanya ilmu ikhlas; membangun pribadi diri kita yang kokoh menjulang, namun tidak statis, karena memang sejatinya hidup ini dinamis.

Posted May 13, 12 #night thoughts #feeling

(Source: febyardi, via kuntawiaji)

56 notes | Posted May 13, 12 #coldplay #paradise

"I choose to write because it’s perfect for me. It’s an escape, a place I can go to hide. It’s a friend, when I feel out casted from everyone else. It’s a journal, when the only story I can tell is my own. It’s a book, when I need to be somewhere else. It’s control, when I feel so out of control. It’s healing, when everything seems pretty messed up.
And it’s fun, when life is just flat-out boring."
Alysha Speer (via creatingaquietmind)

(via pradityaningsih)

2,632 notes | Posted May 13, 12 #writings #so true

(Source: anditslove, via nayasa)

4,268 notes | Posted May 2, 12 #you

"When sadness was the sea, you were the one that taught me to swim."
@Blackalogy

Posted May 2, 12 #sadness

(Source: leilockheart)

10,735 notes | Posted May 2, 12 #books

fuckyeahprettyplaces:

Fox Glacier, New Zealand.

fuckyeahprettyplaces:

Fox Glacier, New Zealand.

450 notes | Posted May 2, 12 #new zealand #beautiful place

kuntawiaji:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadiid: 23)

kuntawiaji:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadiid: 23)

(Source: astrisnaini)

51 notes | Posted May 2, 12 #islam